Fase pascabanjir justru menyimpan hal menegrikan seperti “silent illness”. ini adalah penyakit yang gejalanya tidak selalu kentara, tetapi dapat berakibat fatal bila luput terdeteksi. Saat permukaan air surut dan lumpur mulai mengering, sebagian besar masyarakat mengira ancaman telah berlalu.
Jika kamu tinggal di daerah rawan banjir, memahami daftar penyakit tersembunyi ini membantu melindungi keluarga sekaligus menekan beban sistem kesehatan publik. Berikut tujuh penyakit mematikan yang kerap terabaikan setelah bencana banjir.
1. Leptospirosis
Bakteri Leptospira dari urine tikus mudah bercampur dengan air bah dan merembes melalui luka sekecil apa pun. Gejala awalnya mirip flu sehingga banyak korban telat memeriksakan diri. Dalam kasus berat, leptospirosis menyerang ginjal dan paru, memicu gagal organ multi-sistem yang berujung kematian dalam hitungan hari.
Kementerian Kesehatan Filipina mencatat 569 kasus dalam waktu dua minggu setelah serangkaian banjir Juli–Agustus 2025. Lonjakan serupa diprediksi terjadi di Indonesia pascabencana Sumatra jika deteksi dini lemah. Kamu sebaiknya selalu mengenakan pelindung kaki dan mencuci tubuh dengan sabun setelah kontak air kotor, lalu konsultasi dokter bila demam muncul dalam 14 hari.
2. Melioidosis
Dikenal sebagai “Vietnam time-bomb”, penyakit akibat bakteri Burkholderia pseudomallei ini bersembunyi di tanah basah. Saat banjir, percikan lumpur mengantar kuman ke saluran pernapasan atau luka terbuka. Gejalanya bervariasi, dari abses kulit hingga sepsis, membuat diagnosis kerap terlambat.
Otoritas Kesehatan Northern Territory, Australia, melaporkan 28 kasus hanya dalam delapan minggu musim hujan 2025. Angka kematian rata-rata mencapai 10 persen. Jika kamu memiliki diabetes atau gangguan imun, hindari menyemprot tanah bertekanan tinggi dan kenakan sarung tangan saat membersihkan rumah seusai banjir.
3. Demam Berdarah Dengue
Genangan air pascabanjir adalah “inkubator” Aedes aegypti. Larva menetas hanya dalam tiga hari, lalu menyebarkan virus dengue yang dapat berkembang menjadi dengue shock syndrome. Lonjakan kasus biasanya muncul dua–tiga pekan setelah air surut saat perhatian publik sudah bergeser ke topik lain.
Direktorat Penyakit Menular Kemenkes RI mencatat 15 802 kasus dengue hingga awal Maret 2025 dan memperingatkan kemungkinan kenaikan tajam di wilayah terdampak banjir . Kamu dapat memutus rantai transmisi dengan menutup, menguras, dan mendaur ulang wadah air, sekaligus memakai losion penolak nyamuk pada pagi–sore.
4. Penyakit Diare & Kolera
Infrastruktur air bersih biasanya rusak berat setelah banjir besar. Pipa pecah dan sumur terkontaminasi kotoran memicu diare infeksius, termasuk kolera yang bisa menewaskan pasien dewasa dalam waktu kurang 24 jam jika dehidrasi tak tertangani.
WHO melaporkan lebih dari 409 000 kasus kolera global antara Januari–Agustus 2025, dengan fatalitas tinggi di negara berpenghasilan menengah. Pastikan kamu merebus air minum, menggunakan tablet klorin, dan mengutamakan oralit segera ketika diare berair menyerang anggota keluarga.
5. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Pneumonia
Tempat pengungsian padat, udara lembap, serta peralatan medis rusak adalah kombinasi maut bagi paru-paru. Laporan Reuters dari Aceh Tamiang menggambarkan bayi meninggal setelah ventilator terendam lumpur, sementara kasus demam dan myalgia meningkat tajam.
ISPA memang tampak “ringan”, tetapi pada populasi rentan swpweri bayi dan lansia dapat berubah menjadi pneumonia berat. Kamu disarankan mengenakan masker, menjaga ventilasi tenda/tempat tinggal, serta segera mencari antibiotik berdasarkan resep bila batuk demam berlangsung lebih dari tiga hari.
6. Infeksi Kulit, Luka, dan Risiko Tetanus
Air kotor sarat bakteri Staphylococcus, Streptococcus, bahkan Clostridium tetani. Luka lecet kecil saat mengevakuasi barang bisa berkembang menjadi selulitis atau sepsis tanpa perawatan benar. WHO menekankan pentingnya sarung tangan, sepatu karet, dan disinfeksi peralatan rumah saat pembersihan pascabanjir.
Mintalah vaksin tetanus booster jika kamu belum mendapatkannya dalam lima tahun terakhir. Bersihkan luka dengan antiseptik, lalu tutup menggunakan perban anti-air sebelum memasuki area berlumpur untuk mencegah spora tetani memasuki aliran darah.
7. Gangguan Psikologis Pascatrauma
Kehilangan rumah, anggota keluarga, dan rasa aman dapat menimbulkan post-traumatic stress disorder (PTSD), insomnia, atau depresi bunuh diri. Karena tak bergejala fisik, gangguan ini kerap diabaikan meski dampak fatalnya setara penyakit menular.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sampai menyediakan layanan dukungan psikososial bagi anak-anak korban banjir Sumatra pada Desember 2025 sebagai langkah mitigasi trauma . Jika kamu mengalami gelisah berkepanjangan atau mimpi buruk, segera cari bantuan konselor agar beban mental tidak berujung fatal.
Kesimpulan
Banjir bukan hanya menghanyutkan harta benda, tetapi juga membawa jajaran “silent illness” yang mematikan ketika kewaspadaan mereda. Leptospirosis, melioidosis, dengue, diare kolera, ISPA, infeksi kulit, hingga gangguan psikologis memerlukan deteksi dini, kebersihan ketat, dan akses layanan kesehatan yang cepat. Dengan memahami fakta di atas, kamu dapat menyusun rencana pascabanjir yang lebih komprehensif agar keluarga selamat dari ancaman tersembunyi.
