Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi stunting dan kemiskinan kini berada di persimpangan jalan. Dengan anggaran yang membengkak hingga Rp420 triliun untuk operasional penuh setahun, program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini menuai beragam kontroversi. Pertanyaannya kini: apakah program ini benar-benar investasi masa depan atau justru pemborosan anggaran negara yang tidak tepat sasaran?
1. Pencapaian yang Tidak Bisa Dipungkiri

Program MBG telah menjangkau 20 juta anak sekolah, anak belum sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui di seluruh Indonesia. Kamu harus mengakui bahwa capaian ini cukup impresif mengingat program baru dimulai Januari 2025. Program ini telah menciptakan 290 ribu lapangan kerja baru di sektor dapur umum dan melibatkan sekitar 1 juta petani, nelayan, peternak, serta pelaku UMKM. Dampak ekonominya nyata terasa di daerah-daerah yang selama ini kurang tersentuh pembangunan.
Dampak positifnya terlihat dari meningkatnya angka kehadiran siswa di sekolah serta prestasi belajar mereka. Kamu tidak bisa mengabaikan fakta bahwa 32% anak Indonesia mengalami anemia, 41% tidak sarapan, dan 58% memiliki pola makan tidak sehat. Program ini hadir sebagai intervensi strategis untuk memutus mata rantai masalah gizi yang telah lama menggerogoti generasi muda. PBB bahkan menyatakan bahwa MBG adalah “investasi terbaik sebuah bangsa”, memberikan legitimasi internasional terhadap program ini.
2. Anggaran Fantastis yang Mempertanyakan Prioritas

Dengan anggaran sebesar Rp71 triliun, program MBG hampir setara dengan 90% dari total belanja perlindungan sosial Kementerian Sosial pada tahun 2024. Kamu perlu mempertanyakan apakah alokasi dana sebesar ini sudah tepat sasaran. Sejumlah pihak menilai bahwa negara belum memiliki kapasitas fiskal yang cukup untuk membiayai program MBG secara menyeluruh. Pertanyaan kritis muncul: apakah anggaran jumbo ini tidak lebih baik dialokasikan untuk program pendidikan atau kesehatan yang lebih mendasar?
Hal ini dikhawatirkan dapat mengorbankan program sosial lainnya. Kamu harus melihat bahwa kebijakan anggaran adalah soal prioritas. Ketika satu program menyedot hampir seluruh anggaran sosial, program-program lain yang tidak kalah penting akan terabaikan. Belum lagi dengan anggaran jumbo mencapai Rp 400 triliun tapi minim pengawasan. Ini adalah celah untuk penyalahgunaan serta menciptakan potensi korupsi yang mengancam efektivitas program.
3. Kasus Keracunan Massal yang Mencoreng Citra

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat sebanyak 4.000 siswa menjadi korban keracunan setelah menyantap sajian makan bergizi dalam delapan bulan terakhir. Kamu tidak bisa menganggap remeh angka ini. Sejak 12 Agustus hingga 18 September 2025, kasus keracunan di berbagai sekolah sedikitnya telah menyebabkan 978 siswa dirawat di rumah sakit dengan gejala yang bermacam-macam. Dari Sukoharjo, Bandung, Cianjur, hingga Kupang, rentetan kasus keracunan ini menunjukkan ada masalah sistemik dalam pengelolaan program.
Prabowo mengonfirmasi adanya insiden keracunan yang melibatkan sekitar 200 orang dari lebih 3 juta penerima manfaat. Hal ini menekankan bahwa persentase kasus tersebut hanya sekitar 0,005% dari total penerima. Namun kamu harus ingat, di balik angka persentase yang kecil itu adalah anak-anak yang menderita. Pernyataan ini mencerminkan jarak antara istana dan dapur rakyat. Ketika pemerintah sibuk dengan statistik, orang tua siswa yang anaknya keracunan merasakan kepanikan yang nyata.
4. Tata Kelola yang Masih Bermasalah

Kamu bisa bayangkan betapa berbahayanya program sebesar ini berjalan tanpa pedoman teknis yang jelas. Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) meminta pemerintah menghentikan sementara program tersebut untuk membenahi perencanaan, penganggaran, dan kualitas belanja.
Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalibata tutup usai rugi hampir Rp 1 Miliar dan terkuak bahwa Yayasan Media Berkat Nusantara (MBN) selaku yayasan yang menaungi dapur MBG Kalibata melakukan penggelapan dana. Kasus ini menunjukkan bahwa tanpa pengawasan ketat, program dengan anggaran besar ini rentan disalahgunakan. Kamu perlu mempertanyakan mengapa pemerintah tidak memiliki sistem kontrol yang memadai untuk program sepenting ini.
Antara Harapan dan Kenyataan
Program Makan Bergizi Gratis ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, program ini membawa harapan besar untuk mengatasi masalah gizi dan kemiskinan. Di sisi lain, eksekusi yang terburu-buru tanpa persiapan matang justru menciptakan masalah baru.
Kamu sebagai warga negara berhak menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program yang menggunakan uang rakyat ini. Efektif atau pemborosan? Jawabannya tergantung pada keseriusan pemerintah memperbaiki tata kelola dan mendengarkan kritik konstruktif dari berbagai pihak.
