Banyak bisnis kecil memilih fulfillment in-house (dikerjakan sendiri), sementara yang lain memakai third party fulfillment melalui 3PL (third-party logistics) agar operasional lebih ringan. Pilihan yang “lebih menguntungkan” bukan soal mana yang paling keren, melainkan mana yang paling pas dengan volume pesanan, karakter produk, dan kemampuan tim.
Di bawah ini adalah perbandingan keduanya secara jelas. Simak ulasannya sebagai berikut
1) Definisi dan Cara Kerja: Siapa yang Pegang Gudang, Siapa yang Jalanin Proses
Fulfillment in-house berarti bisnis kamu bertanggung jawab penuh atas proses pesanan, termasuk menyiapkan tempat simpan, menata stok, serta melakukan pick, pack, dan ship setiap hari. Model ini sering disebut self-fulfillment, karena semua aktivitas operasional ada di tangan tim internal. Dalam praktiknya, kamu juga perlu menyiapkan alur kerja, peralatan packing, dan kebiasaan pencatatan stok yang disiplin agar tidak kacau.
Third party fulfillment biasanya dilakukan oleh 3PL, yaitu pihak luar yang mengelola logistik seperti pergudangan dan pengiriman sebagai layanan. 3PL umumnya menangani penyimpanan di gudang mereka, melacak stok, lalu mengambil, mengemas, dan mengirim pesanan atas nama brand kamu. Banyak platform e-commerce juga memposisikan 3PL sebagai cara untuk mengurangi beban operasional agar pemilik bisnis fokus ke pertumbuhan.
2) Kontrol Operasional: Lebih Luwes In-House, Lebih “Terstandar” di 3PL
Keuntungan terbesar in-house adalah kontrol yang sangat detail atas cara kamu menyimpan dan mengemas barang. Jika produk kamu butuh perlakuan khusus—misalnya bundling unik, kartu ucapan yang sering berubah, atau QC ketat—tim internal bisa menyesuaikan proses tanpa menunggu persetujuan vendor. Kontrol penuh juga membantu kamu membuat eksperimen cepat, seperti mengganti bahan kemasan untuk menekan biaya atau menaikkan keamanan paket.
Di sisi lain, third party fulfillment cenderung menawarkan proses yang sudah baku dan rapi karena gudang mereka memang dibangun untuk mengolah pesanan secara konsisten. Standar ini biasanya membuat operasional lebih stabil saat order naik, tetapi ada batas fleksibilitas untuk permintaan yang terlalu spesifik. Karena itu, 3PL paling cocok ketika bisnismu butuh ketepatan dan konsistensi yang bisa diulang, bukan perubahan proses setiap minggu.
3) Biaya: In-House Lebih Banyak Biaya Tetap, 3PL Lebih Banyak Biaya Berjalan
In-house sering terasa murah di awal karena kamu bisa mulai dari rumah atau ruang kecil, lalu packing dilakukan sendiri. Namun, ketika pesanan meningkat, biaya tetap biasanya ikut naik: sewa ruang, rak, tim tambahan, alat label, dan waktu operasional yang tersita setiap hari. Pada titik tertentu, biaya yang tadinya tersembunyi (terutama tenaga dan waktu) berubah jadi beban yang nyata.
Third party fulfillment umumnya mengurangi kebutuhan investasi aset seperti gudang sendiri, sehingga modal tidak cepat terkunci di operasional logistik. Banyak referensi 3PL menekankan bahwa outsourcing dapat menurunkan komitmen modal (capital commitment) karena perusahaan tidak harus memiliki fasilitas gudang dan transport sendiri. Sebagai gantinya, kamu membayar biaya penyimpanan, biaya pemrosesan per order, dan ongkir sesuai skema 3PL yang dipakai.
4) Kecepatan Pengiriman: 3PL Unggul Saat Punya Gudang Dekat Pelanggan
In-house bisa sangat cepat bila mayoritas pembeli ada di satu kota yang sama dan kamu punya jadwal pickup kurir yang rapi. Namun, jika pembeli tersebar lintas pulau atau lintas negara, waktu kirim sering melambat karena semua paket berangkat dari satu titik. Dalam kondisi ini, kamu akan terus “kalah jarak,” bukan kalah niat.
Third party fulfillment sering lebih unggul karena stok dapat ditempatkan di beberapa gudang agar lebih dekat ke pelanggan, sehingga waktu transit lebih singkat. Beberapa jaringan fulfillment secara eksplisit menekankan strategi menaruh produk dekat pelanggan untuk mempercepat pengiriman. Ini biasanya terasa menguntungkan ketika bisnismu sudah punya permintaan stabil dari berbagai wilayah.
5) Skalabilitas: In-House Cepat Mentok, 3PL Lebih Siap Menampung Lonjakan
In-house cocok saat pesanan masih puluhan per hari, karena tim kecil masih bisa menjaga ritme picking dan packing. Masalah muncul ketika order naik mendadak, misalnya saat campaign besar, karena proses manual sering membuat keterlambatan menumpuk dan kesalahan packing meningkat. Saat itu, bisnis biasanya dihadapkan pada dua pilihan berat: menambah orang cepat-cepat atau menerima penurunan kualitas layanan.
3PL pada dasarnya dibangun untuk menangani volume, jadi lonjakan order lebih mudah diserap lewat kapasitas gudang, sistem, dan tenaga operasional mereka. Banyak sumber menyebut 3PL dapat diskalakan dan disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, sehingga cocok untuk bisnis yang sedang tumbuh. Keuntungan ini makin terasa ketika kamu mulai menjual multichannel dan butuh proses yang konsisten di semua kanal.
6) Mana yang Lebih Menguntungkan: Pakai “Tes Situasi” Biar Keputusan Tidak Spekulatif
Fulfillment in-house biasanya lebih menguntungkan untuk bisnis yang produknya butuh sentuhan personal tinggi, jumlah SKU tidak terlalu kompleks, dan penjualan masih mudah dikendalikan oleh tim kecil. Model ini juga masuk akal bila kamu ingin menjaga kontrol kualitas secara ketat dan lokasi pelanggan masih terkonsentrasi. Intinya, in-house unggul saat kontrol dan fleksibilitas lebih bernilai daripada efisiensi skala.
Third party fulfillment biasanya lebih menguntungkan ketika order sudah rutin tinggi, pelanggan tersebar, dan kamu ingin menekan beban operasional gudang. 3PL membantu bisnis fokus ke pertumbuhan dan mengurangi overhead mengelola fulfillment sendiri, terutama ketika sistem sudah terintegrasi sehingga pemantauan stok dan pengiriman bisa dilakukan dari satu dashboard. Dengan kata lain, 3PL unggul saat kecepatan, stabilitas proses, dan kemudahan skala menjadi prioritas utama.
Kesimpulan
Perbedaan utama fulfillment in-house dan third party fulfillment ada pada kepemilikan proses: in-house memberi kontrol penuh, sedangkan 3PL memberi efisiensi dan kapasitas skala. Jika bisnismu masih butuh fleksibilitas tinggi dan volume belum terlalu besar, in-house sering terasa lebih “untung” karena mudah diatur langsung. Jika bisnismu mengejar pengiriman cepat lintas wilayah dan ingin mengurangi beban gudang, third party fulfillment cenderung lebih menguntungkan dalam jangka menengah hingga panjang.
